Yang Memengaruhi Sekaligus Memperkuat Gender Kondisi Biologis

Secara biologis, laki-laki memang dibedakan dari perempuan ber dasarkan jenis kromosom dan kadar hormonnya. Karakteristik tumbuh kembang anak laki-laki banyak dipengaruhi oleh hormon androgen. Hal ini membuatnya jadi lebih agresif dan aktif dibanding anak perempuan. Begitu juga pembentukan ototnya. Sedangkan sifat dan karakteristik anak perempuan lebih banyak dipengaruhi oleh hormon estrogen.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Inilah yang secara alami ah membuat perempuan tampil lebih lembut, lebih halus perasaannya, lebih emosional, sekaligus terkesan pasif. POLA ASUH Anak laki-laki cenderung menjadikan papa sebagai sosok peniruan dan identifikasinya. Ia akan menyerap hampir semua sikap, cara bertutur, hobi, minat dan perilaku papanya. Sedangkan anak perempuan menjadikan mama sebagai tokoh modelnya. Karena nya, kita harus tampil sebagai model yang sesuai dengan identitas jender yang ingin kita bentuk pada anak laki-laki atau perempuan.

Pengasuhan khas papa dan mama apabila tidak dirasakan hadir dalam diri anak bisa membuatnya mengadopsi konsep gender yang berbeda dari jenis kelaminnya. “Aku ini laki-laki atau perem puan, ya? Kalau aku anak laki-laki, mengapa Papa enggak pernah bermain denganku?” TELEVISI Tayangan visual yang sifatnya massal harus diakui banyak me nampilkan bagaimana sosok laki-laki dan perempuan menjalankan peran sosial dan budaya mereka. Masukan ini akan menambah pengetahuan bahkan memengaruhi anak dalam membentuk identitas gender.

Ia pun akan secara cepat mencontoh apa yang diperankan idolanya. Lewat tayangan visual, anak juga bisa menge nal peran dari lawan jenisnya. Anak laki-laki lantas jadi tahu apa yang diharapkan oleh anak perempuan dan sebaliknya. SEKOLAH Sekolah juga berperan penting dalam pembentukan iden titas dan peran gender seorang anak. Interaksi dengan anak-anak lain di sekolah memperkuat identitas dan peran gendernya. Karenanya, bentuk interaksi di antara mereka perlu juga menjadi perhatian orangtua. Bagaimana dengan sekolah homogen, sanggar tari, kursus model, dan semacamnya?

Pada dasarnya tak ada yang salah dengan lingkungan tersebut. Tak otomatis pula anak yang berada di lingkungan itu akan mengadopsi perilaku LGBT, karena faktor yang paling menentukan adalah pola interaksi dengan orangtua yang terbentuk di rumah. Bagaimana jika anak kita berteman dengan anak lain yang menunjukkan perilaku LGBT? Tak perlu paranoid, kok. Bisa jadi anak malah penasaran, mengapa orangtuanya bersikap seperti itu. Rasa penasaran ini akan mendorong anak sembunyi-sembunyi. Lebih baik, minta ia untuk bermain dengan lebih banyak teman, bukan hanya dengan dia seorang.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *