Kedai Steak yang Unik

Jangan takut mampir ke kedai ini. Yang bersifat mistik hanya interior berikut nama menu yang ditawarkan. Masakannya sendiri sangat mengundang selera. Kata “mistik” sendiri sebetulnya singkatan dari mi dan steak. Maksudnya mi diberi toping steak. Keistimewaan sajian mi tidak berhenti sampai di situ. Ada tingkat kepedasan yang justru dicari para pengunjung rumah makan ini. Tak tanggungtanggung, ada 6 level kepedasan. Level satu pedasnya berasal dari 1 sendok makan sambal, level dua, punya tingkat kepedasan yang dibuat dari dua sendok makan sambal, begitu seterusnya sampai level lima. Nah, bagaimana dengan level 6? Nah, ini tantangan buat Anda penyuka pedas. Karena mistik level enam dibuat dari 15 sendok makan sambal. Mi-nya sendiri disajikan dalam dua macam, mi kuah dan goreng. Pada mi kuah, mi diguyur kuah dahulu sebelum ditoping steak.

Kuahnya ada 4 pilihan yaitu cemani (kaldu ayam), black magic (kuah lada hitam), lahar merapi (kuah dari saus barbeque dan saus tomat)., dan karimun jawa (kuah kari). Mi goreng pun punya pilihan bumbu yang sama. Hanya saja bumbunya dimasukkan dalam mi gorengnya. Steak yang dijadikan toping juga sangat beragam. Ada sapi, ayam, dan sosis. Sebelum disajikan, ketiga macam toping dibakar dengan olesan saus barbeque atau digoreng krispi. Datang ke kedai ini harus pandai membaca menu. Karena menunya memakai istilah mistik. “Ajian”, misalnya merupakan istilah untuk camilan, “sesajen” merupakan kelompok menu minuman. Atau “tumbal” yang merupakan pilihan toping. Satu lagi adalah pesugihan (menu utama). Semua pesugihan dikedai ini ditawarkan dengan harga Rp 14 ribu, tumbal Rp 6 ribu – Rp 9 ribu. Kedai yang buka pukul 10.00 – 21.00 ini menyajikan sesuatu yang unik, setiap hari Jum’at mulai pukul 18.00, Anda akan merasakan kemistikan kedai ini karena ada karyawan berkostum kunti duduk di sebuah sudut. Nah, tertarik menyantap mi bertoping steak di ruangan berinterior mistik?

Contoh Rumah Ideal di Jakarta, Juga Perlu Genset Jakarta yang Berkualitas

Contoh Rumah Ideal di Jakarta, Juga Perlu Genset Jakarta yang Berkualitas – Membiasakan hidup dengan barang secukupnya bukan berarti kita hidup di tengah keterbatasan. Ini merupakan sebuah pilihan untuk hidup yang nyaman dan bersahabat dengan alam. GaYa HiDUp MoDeRn selama ini dianalogikan dengan hal-hal yang bersifat konsumtif. Ini juga didukung dengan semakin seringnya industriindustri, mulai dari elektronik, rumah tangga, hingga otomotif, menawarkan inovasi produk terbaru. entah karena memang ingin mengikuti perkembangan, atau hanya atas nama gengsi, kita menerimanya begitu saja tanpa memikirkan terlebih dahulu, apakah kita benar-benar memerlukan barang-barang tersebut? Pada hakikatnya, pola tersebut bukanlah mencirikan masyarakat yang modern. karena sesungguhnya masyarakat yang modern adalah masyarakat yang hidup secara arif dan bijak.

Dalam hal ini adalah memilih secara selektif, apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari? Membeli barang secara sembarangan tidak hanya memberikan dampak negatif ke segi finansial, namun juga bisa menyebabkan kian menumpuknya barang di rumah kita. Akibatnya, tentu saja kenyamanan hidup kita sehari-hari akan terganggu. Berapa banyak barang yang sebenarnya masih berfungsi akhirnya malah berakhir menjadi tumpukan barang di sudut rumah? Atau bahkan barang tersebut berakhir di pembuangan sampah yang pastinya akan membawa dampak buruk kepada lingkungan. Pernahkah kita sejenak mempertimbangkan untuk merasa cukup atas apa yang kita sebenarnya kita butuhkan, bukan berdasarkan apa yang kita inginkan?

karena percayalah, akan selalu muncul keinginan-keinginan baru, meskipun kita sudah memenuhi keinginan-keinginan sebelumnya. Hidup dengan barang-barang yang secukupnya bukan berarti kita hidup dalam keterbatasan, namun lebih merupakan hidup yang efisien dan ramah akan lingkungan. salah satu contoh mudah yang dapat kita terapkan adalah menggunakan kembali barang-barang lama yang sebenarnya masih berfungsi, atau mengkreasi ulang barang tersebut sehingga dapat memberikan nuansa baru pada rumah.

Dengan begitu, kita tidak hanya menghemat pengeluaran, namun mencegah penumpukan barang di rumah. Jika kita memang harus membeli barang, ukurannya tentu juga harus disesuaikan dengan ruangan. Jangan tergoda untuk membeli barang berukuran besar apabila kita memiliki ruang yang kecil, karena nantinya akan mengganggu ruang gerak kita. kita juga dapat mencoba untuk membiasakan diri membawa tas belanja, alih-alih menggunakan plastik dari penjual. selain dapat mencegah menumpuknya kantong belanja di rumah, cara itu juga dinilai lebih bersahabat dengan alam karena meminimalkan penggunaan plastik maupun kertas. Masih banyak hal lain yang dapat kita terapkan untuk meminimalisir penumpukan barang, misalnya dengan memanfaatkan sudut-sudut tertentu pada rumah menjadi area penyimpanan yang tersembunyi. Namun yang utama adalah membiasakan diri untuk hidup dengan barang yang secukupnya karena tidak hanya membawa pengaruh yang positif kedalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga kepada lingkungan.