Martabak di Atas Piring

Eli mengisahkan, kedua tuanya merupakan perantau asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Sesampainya di Sumatera Utara, Bupon dan istri sempat bingung untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya Bupon memutuskan berjualan martabak. “Di Bukit Tinggi, orang jualan martabak piring sangat banyak. Kebetulan Papa tahu cara membuat martabak,” tuturnya.

Bupon lalu membuka lapak martabak dan mempraktikkan ilmu membuat martabak yang diperolehnya dari kampung halamannya, Minang Kabau. Di masa itu, bahan bakar gas belum populer seperti sekarang. Bupon lantas memanggang martabak dengan menggunakan arang. Bupon membuat ukuran martabak yang sederhana agar ia bisa menjualnya dengan harga lebih murah dan pembeli mudah menikmatinya. Ia pun menggunakan piring seng sebagai loyang martabaknya.

Tak disangka, cara super simpel ini justru sangat menarik perhatian orang. Bahkan pembeli suka dengan rasanya. “Biasanya, kan, ukuran martabak besar-besar dan tebal. Untuk satu martabak saja harus dimakan 3-4 orang, baru habis,” jelas Eli. Nah, martabak buatan Bupon ukurannya lebih mini. “Sekali makan saja, orang bisa menghabiskan 3 sampai 5 martabak,” katanya lagi. Dengan ukurannya yang mini, ia pun tak perlu repot memotong motong martabak. Bisa langsung disantap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *