Gecok Daging untuk 6 porsi ala Catering Kantor Jakarta

Gecok Daging untuk 6 porsi ala Catering Kantor Jakarta

Bahan: 2 sdm wijen, sangrai, haluskan 250 gr daging sapi sengkel, potong kotak 150 gr hati sapi, rebus, potong-potong kotak 150 gr usus sapi, rebus, potong-potong 3 cm 150 gr babat, rebus, potong kotak 3 cm lengkuas, memarkan 2 btg serai, ambil putihnya, memarkan 8 lbr daun jeruk, buang tulang daunnya, iris 2 sdt garam 2 sdt gula pasir 1 sdt merica bubuk 550 ml santan, dari 1/2 btr kelapa 4 bh belimbing wuluh, iris 1 sdt air asam jawa, dari 1/2 sdt asam jawa, larutkan dalam 1 sdm air 2 sdm minyak untuk menumis

Bumbu Halus: 5 btr kemiri, sangrai 8 btr bawang merah 3 siung bawang putih 2 bh cabai rawit merah

Cara Membuat: 1. panaskan minyak. Tumis bumbu halus, serai, daun jeruk, dan lengkuas hingga tercium bau harum. masukkan daging. aduk sampai berubah warna. 2. Tambahkan hati sapi, babat, usus, gula pasir, merica bubuk, dan garam dan aduk rata. 3. Tuang santan secara bertahap. masak sampai matang dan meresap. 4. masukkan belimbing wuluh, air asam jawa, dan wijen. Dan aduk. masak hingga matang.

Martabak Piring Murni, Medan

Saat hari mulai senja, sejumlah pertokoan di kawasan Jalan Bogor, Medan mulai tutup. Pada saat itulah kedai dengan gerobak dengan nama Martabak Piring Murni mulai membuka dagangan. Beratapkan tenda sederhana berwarna biru, sang pemilik usaha, Eli (30), memulai aktivitasnya sejak pukul 18.00 WIB. Di sisi gerobak mulai ditata sekitar 8 tungku besi.

Eli lalu membakar sejumlah arang lalu dimasukkan ke dalam tungku-tungku. Di atas tungku inilah martabak-martabak berukuran mini nantinya dipanggang di atas bara api. Aroma harum martabak manis, seketika akan menyebar ke berbagai penjuru, seolah ingin mengajak orangorang untuk singgah ke kedainya.

Uniknya, martabak yang Eli buat, di tidak di atas loyang martabak pada umumnya, melainkan di atas piring-piring seng yang dipasangi pegangan kayu di salah satu sisinya, untuk memudahkan proses pemanggangan. Tak heran bila kemudian usaha martabak ini dinamai martabak piring. Menurut Eli, martabak piring dirintis ayahnya, Bupon, sejak 40 tahun silam.

Setelah ayahnya kian renta, usaha martabak piring ini diambil alih oleh Eli. “tidak ada yang berubah, walaupun usaha telah mengalami perpindahan tangan. Proses memasak martabaknya masih tetap sama seperti ketika dikelola Papa. Justru cara masak ini sengaja kami dipertahankan. Martabak dipanggang di atas piring. Bedanya, kini kami sudah punya 4 cabang,” papar Eli bangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *