Category Archives: Parenting

Belajar Mencari Teman Bag3

Keberhasilan ini akan membawa anak mau menjalin pertemanan dalam lingkup yang lebih luas,” jelas Titis. Jangan dilupakan juga, pada anak batita, hampir 50% interaksi dengan teman sebayanya difasilitasi oleh objek bermain. Jadi, menyediakan mainan dapat membantu anak memulai sosialisasi dengan orang lain. Beri “tugas” yang harus anak selesai kan bersama temannya.

Baca juga : Kerja di Jerman

Misal, memindahkan bola dari 1 ember keember lain secara bergantian. Pilihlah waktu bermain yang tepat dengan durasi waktu yang sesuai kemampuan anak. BANTU DENGAN TARGET PERILAKU “Ada beberapa anak yang lebih terbantu dengan adanya target perilaku sosialisasi,” ujar Titis. Misal, meminta anak mencoba menyapa temannya dengan mengatakan “hai” selama 3 hari berturutturut. Target perilaku tentu harus realistis dan sesuai dengan kapasitas anak. Jika si batita berhasil melakukannya, berikan target yang lebih menantang, sambil tetap mengamati kemajuannya.

Dampingi ia, namun jangan memberikan bantuan berlebihan. Jika anak mengalami kesulitan, kita dapat memperpanjang waktunya. Yang penting, jaga agar anak tidak terbebani. Menurut Titis, orangtua dapat mencoba berbagai cara lain untuk membantu anak belajar bersosialisasi. Coba satu cara selama paling tidak satu bulan, lalu tandai yang paling efektif. Apabila perilaku social withdrawal terus bertahan hingga anak memasuki usia 4 tahun dan atau disertai dengan gejala-gejala psikologis lain, seperti depresi atau kecenderungan menyakiti diri sendiri, si kecil perlu dikonsultasikan pada ahli. Mengapa?

social withdrawal yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan hambatan dalam cara berkomunikasi, mengatur emosi, serta kemampuan pemecahan masalah. Secara jangka panjang, social withdrawal membuat anak punya risiko lebih besar untuk memiliki kemampuan penyesuaian diri yang rendah, termasuk masalah sosio-emosional seperti kecemasan, rendah diri, dan gejala depresi. Mereka pun umumnya punya kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya, misalnya ditolak, dijadikan korban, atau memiliki kualitas pertemanan yang rendah, serta mengalami kesulitan di sekolah. Anak juga bisa memiliki hubungan yang kurang baik dengan guru, kesulitan akademis, bahkan enggan ke sekolah. Oleh karena itu, gejala-gejala social withdrawal yang muncul pada masa anakanak harus segera ditangani agar tidak terbawa hingga dewasa.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Ketika Janin Terdeteksi Cacat Bag3

Atau, melakukan hal-hal yang tidak masuk akal untuk menyelesaikan masalah, contohnya pergi ke dukun, memenuhi syarat apa pun agar segalanya berubah menjadi baik. Setelah proses bargaining, sadar bila kondisi tersebut tidak bisa diperbaiki, muncullah fase depresi. Perasaan sedih luar biasa karena mengalami kondisi tersebut.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Nah, yang diharapkan setelah proses depresi adalah munculnya fase acceptance (penerimaan): menerima bahwa janin dalam kondisi tak sempurna, tak sesuai harapan. Jika mamil mendapat dukungan dari suami dan anggota keluarga besar (seperti: orangtua, kakak, adik), maka mamil akan menghadapi dengan lebih lancar proses penerimaan ini. Tentunya, untuk bisa sampai pada fese penerimaan dibutuhkan penjelasan yang baik, mudah dimengerti, dan cara penanganan selanjutnya dari dokter serta para ahli terkait, seperti ahli genetik dan psikologi. Dengan demikian, orangtua, terutama para mama, biasanyasdengan dukungan keluarga, terutama suamis akan lebih siap menghadapi segala kemungkinan pada bayinya dengan segala konsekuensinya.

Begitu juga untuk memutuskan apakah akan melakukan pengakhiran kehamilan atau melanjutkan kehamilan dan melahirkan sesuai waktunya. Semua keputusan tersebut diambil oleh orangtua setelah memerhatikan pertimbangan dari para ahli tersebut. Dengan begitu, ketika orangtua memutuskan untuk melanjutkan kehamilannya, namun kemudian, beberapa saat setelah lahir, si bayi tidak tertolong akibat cacat bawaannya, maka orangtua telah siap menghadapi kenyataan tersebut. Satu hal ditekankan oleh psikolog yang akrab disapa Nina ini, Mama Papa perlu meyakini bahZa setiap Maninstermasuk Manin yang terdeteksi cacatsadalah anugerah dari Tuhan, yang tak semua orang bisa mendapatkannya.

Yakini pula bahwa ada rencana Tuhan di balik kenyataan ini sehingga Mama Papa bisa mengambil hikmahnya. Saran Nina, bila kondisi cacat janin tak membahayakan nyawa Mama, sebaiknya tetap dipertahankan. Nina menyakini, bila Tuhan yang memberi anugerah ini, maka hanya Tuhan yang berhak mengambil nyawanya, dan jika Tuhan berkenan akan hidup janin, maka janin tersebut pun akan dapat tumbuh dengan cara-Nya. Apa pun keputusannya, terpulang kepada Mama Papa. Tetap semangat dan tersenyum, ya! Janin yang tumbuh adalah anugerah dari Tuhan. Namun, bila anugerah tersebut tidak tumbuh sempurna sesuai harapan, apa yang dapat kita perbuat?

Sumber : https://pascal-edu.com/

 

Yang Memengaruhi Sekaligus Memperkuat Gender Kondisi Biologis

Secara biologis, laki-laki memang dibedakan dari perempuan ber dasarkan jenis kromosom dan kadar hormonnya. Karakteristik tumbuh kembang anak laki-laki banyak dipengaruhi oleh hormon androgen. Hal ini membuatnya jadi lebih agresif dan aktif dibanding anak perempuan. Begitu juga pembentukan ototnya. Sedangkan sifat dan karakteristik anak perempuan lebih banyak dipengaruhi oleh hormon estrogen.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Inilah yang secara alami ah membuat perempuan tampil lebih lembut, lebih halus perasaannya, lebih emosional, sekaligus terkesan pasif. POLA ASUH Anak laki-laki cenderung menjadikan papa sebagai sosok peniruan dan identifikasinya. Ia akan menyerap hampir semua sikap, cara bertutur, hobi, minat dan perilaku papanya. Sedangkan anak perempuan menjadikan mama sebagai tokoh modelnya. Karena nya, kita harus tampil sebagai model yang sesuai dengan identitas jender yang ingin kita bentuk pada anak laki-laki atau perempuan.

Pengasuhan khas papa dan mama apabila tidak dirasakan hadir dalam diri anak bisa membuatnya mengadopsi konsep gender yang berbeda dari jenis kelaminnya. “Aku ini laki-laki atau perem puan, ya? Kalau aku anak laki-laki, mengapa Papa enggak pernah bermain denganku?” TELEVISI Tayangan visual yang sifatnya massal harus diakui banyak me nampilkan bagaimana sosok laki-laki dan perempuan menjalankan peran sosial dan budaya mereka. Masukan ini akan menambah pengetahuan bahkan memengaruhi anak dalam membentuk identitas gender.

Ia pun akan secara cepat mencontoh apa yang diperankan idolanya. Lewat tayangan visual, anak juga bisa menge nal peran dari lawan jenisnya. Anak laki-laki lantas jadi tahu apa yang diharapkan oleh anak perempuan dan sebaliknya. SEKOLAH Sekolah juga berperan penting dalam pembentukan iden titas dan peran gender seorang anak. Interaksi dengan anak-anak lain di sekolah memperkuat identitas dan peran gendernya. Karenanya, bentuk interaksi di antara mereka perlu juga menjadi perhatian orangtua. Bagaimana dengan sekolah homogen, sanggar tari, kursus model, dan semacamnya?

Pada dasarnya tak ada yang salah dengan lingkungan tersebut. Tak otomatis pula anak yang berada di lingkungan itu akan mengadopsi perilaku LGBT, karena faktor yang paling menentukan adalah pola interaksi dengan orangtua yang terbentuk di rumah. Bagaimana jika anak kita berteman dengan anak lain yang menunjukkan perilaku LGBT? Tak perlu paranoid, kok. Bisa jadi anak malah penasaran, mengapa orangtuanya bersikap seperti itu. Rasa penasaran ini akan mendorong anak sembunyi-sembunyi. Lebih baik, minta ia untuk bermain dengan lebih banyak teman, bukan hanya dengan dia seorang.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Hipoglikemia Mengancam Otak Bayi

Hipoglikemia adalah kadar gula darah yang terlalu rendah. Tanpa penanganan tepat, kondisi ini dapat mengancam kerusakan pada otak. Bagaimana kita dapat menge- tahui kondisi hipoglikemia pada bayi? Sederhana kok, yakni dengan pemeriksaan gula darah (glukosa). Tak perlu khawatir, semua bayi baru lahir akan menjalani pemeriksaan ini demi memastikan kadar gula darahnya.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Tes ini cukup dilakukan sekali, tapi dokter akan memantau kadar gula darah bayi selama 72 jam ke depan. Apabila ada gejala-gejala hipoglikemia, seperti tubuh bayi gemetar, napasnya sesak, mengalami kejang, tubuh biru, atau seluruh badannya terasa dingin, dokter kembali akan melakukan tes gula darah, sebelum melakukan tindakan medis berikutnya.

Lima Kelompok Berisiko

Wakaupun semua bayi yang baru saja lahir akan menjalani tes gula darah, pada umumnya dokter akan menaruh perhatian khusus pada lima kelompok besar bayi neonatal yang mempunyai risiko tinggi mengalami hipoglikemi. Kelompok itu adalah: a. Bayi menderita hiperinsulin karena si ibu pengidap diabetes melitus atau diabetes gestasional (diabetes yang terjadi selama kehamilan).

Pada ibu-ibu hamil yang menderita diabetes, transfer glukosa pada janinnya akan terjadi secara berlebihan. Inilah yang membuat respons insulin pada janin meningkat. Seperti kita ketahui, insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh pankreas dan yang mengatur tingkat gula darah. Nah, pada waktu bayi dilahirkan lalu saluran plasenta terputus, yang terjadi adalah transfer glukosa akan berhenti, padahal respons insulin dari bayi masih tinggi, sebab itulah bayi bisa mengalami hipoglikemia. b.

Bayi dengan berat badan lahir rendah (BLBR) kebanyakan meng alami malnutrisi selama dalam kandung an (intrauterin). Ini mengakibatkan rendahnya cadangan glikogen hati dan lemak tubuh total. Glikogen merupakan karbohidrat yang tersimpan di dalam jaringan tubuh. Hati mengubah glukosa dari makanan, menjadi glikogen dan menyimpannya untuk kelak digunakan. Jika dibutuhkan, hati akan mengubah bentuk glikogen menjadi glukosa lagi. Sehingga begitu bayi telah lahir, persediaan glikogen yang ada bisa langsung terpakai. Pada BLBR, kecepatan metabolisme nya lebih besar, karena mereka memakai glukosa lebih banyak dibanding bayi dengan berat lahir normal.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Mengapa Sulit Bangun Pagi Bag2

Bisa jadi anak sudah tidur pukul 20.00, tetapi ia terbangun di tengah malam. Mungkin karena mengompol, mimpi buruk, atau terbangun dan sulit tidur kembali. Anak jadi lebih sulit dibangunkan karena tidurnya kurang berkualitas. Sebetulnya, untuk menyiasati aktivitas si prasekolah dan kebutuhan waktu tidurnya bisa dengan meminta anak tidur siang. Pada usia prasekolah, anak hanya perlu satu kali tidur siang, berbeda dengan bayi dan batita yang perlu dua kali tidur siang.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Satu kali tidur siang biasanya berlangsung 1–2 jam. Namun, kebutuhan tidur siang ini berbeda-beda bagi setiap anak. Semakin besar anak, waktu tidur siangnya semakin berkurang. Bagaimana jika anak menolak tidur siang? Tidak masalah. Anak tidak membutuhkan tidur siang setiap hari, terutama jika ia tidak merasa kelelahan. Meski demikian, pastikan anak punya waktu untuk beristirahat.

Istirahat tak selalu berarti tidur siang, bisa juga dengan duduk diam sambil membaca atau bercerita, dengan rentang waktu yang sama setiap harinya. Waktu istirahat berarti kita tidak memberinya stimulasi apa pun, sehingga anak bisa menenangkan diri, baik secara fi sik maupun psikis. Jika anak enggan tidur siang, bisa juga kita menyesuaikan waktu tidurnya menjadi sedikit lebih awal.

Dimulai Ritual Rutin

Meski mungkin anak berdalih menunggu kita pulang kerja, sehingga ia tidur larut dan sulit bangun pagi, kita tetap perlu mendorong anak tidur cukup. Alasannya, sel-sel dalam tubuh memperbaharui dan memperbaiki diri saat kita tidur di malam hari, dengan catatan tidurnya cukup dan berkualitas. “Bayangkan kerugian yang dialami anak saat ia kurang tidur, dari bangun uringuringan, sulit konsentrasi di sekolah, emosi menjadi sensitif, juga tubuh yang rentan penyakit, dan pertumbuhan yang kurang optimal,” papar Ratih.

Memang, kita sendiri yang harus pintar-pintar membujuk anak agar ia tidur lebih cepat. Buatlah suasana mendukung agar anak dapat tidur lebih cepat, mulai dengan waktu lebih awal dari biasanya dan buatlah rutinitas tertentu. Misal, sete ngah jam sebelum waktu tidur, anak sudah minum susu, sikat gigi, cuci tangan dan kaki, berganti piyama.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Khawatir Orientasi Seksual Anak

Anak saya, ferdy (5), dari kecil suka hal-hal yang berbau perempuan, seperti ingin pakai mukena, sandal untuk anak perempuan, sampai sekarang suka film frozen dan atributnya. Saya pernah konsultasi ke dokter anak, katanya, ia lebih banyak ke bundanya, jadi sifatnya terbawa. Sudah disu ruh dekat dengan ayahnya, tapi masih berlaku sama meski tak separah saat usia 3-4 tahun lalu.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Kebiasaannya mengenyot jempol susah dihentikan. Saya pernah coba memberi jempolnya dengan mahoni, sambiloto, brotowali yang pahit, tapi tetap saja dikenyot. Katanya, “begini tuh nyaman, bunda.” Bu mayke, saya mengkhawatirkan orientasi seksual anak saya. Bisakah terdeteksi di usia balita? Bagaimana menghilangkan kebi asaan mengemut jarinya? Mohon jawabannya. Terima kasih.

Mengenai orientasi seksual, saya belum berani menentukan diagnosis, mengingat di usia balita anak cenderung lekat dengan ibu. Usaha Bu Haeni untuk lebih banyak melibatkan ayahnya dalam pengasuhan anak, sudah berhasil mengurangi ketertarikan anak akan hal-hal yang terkait erat dengan iden titas perempuan. Jadi sebaiknya si ayah meng ajak anak lebih banyak bermain dengan permainan bersifat fisik, misalnya bermain bola, sepeda, bermain gulat-gulatan, dibopong di atas pundak ayahnya, dan lain-lain.

Porsi menonton film dikurangi sebanyak mungkin, karena pada usia balita anak lebih baik banyak bergerak untuk mengasah keterampilan motorik kasar sebagai basis keterampilan olahraga di kemudian hari. Ganti topik film Frozen dengan film-film cerita lainnya yang berisi tentang perbuatan mana yang boleh dan tidak boleh, pentingnya berbagi, pengenalan warna, bentuk, arah, konsep jumlah, dan sebagainya. Kebiasaan mengisap jari bisa dihilangkan dengan memberikan anak kesibukan sehingga keinginan mengisap jari bisa teralihkan. Sebaiknya tidak sering-sering melarang anak mengisap jarinya. Larangan ini akan menyebabkan dia semakin sulit mengatasi keinginannya karena seakan-akan diingatkan terus-menerus untuk mengisap jarinya.

Peduli Perubahan Iklim

PT Unilever Indonesia Tbk kembali meluncurkan kampanye brightFuture (sebelumnya bernama Project Sunlight) di Jakarta. Unilever kali ini bermitra dengan WWF (The World Wide Fund For Nature) dan mengajak masyarakat berperan aktif dalam melindungi satu juta pohon di Indonesia dan Brazil dengan bergabung di www. brightfuture.unilever.co.id. Sancoyo Antarikso, Governance and Corporate Affairs Director PT Unilever Indonesia Tbk dalam sambutannya mengatakan, “Kampanye brightFuture merupakan perwu jud an dari Unilever Sustainable Living Plan (USLP) yang bertujuan meng ajak jutaan orang di seluruh dunia untuk mewujudkan hari esok yang lebih cerah bagi anak-anak dan generasi mendatang, dengan mene rapkan cara hidup yang lebih lestari (sustainable) dengan meng inspirasi masyarakat melakukan tindakan nyata.”

Bisakah Hamil Lagi? Bag2

Kondisi mental seperti itulah yang harus dipulihkan terlebih dahulu, sebelum Mama memutuskan untuk hamil lagi. Pasalnya, berpikir positif adalah salah satu syarat pen ting bagi mamil dalam menjalani kehamilan yang sehat dan membahagiakan , sehingga pertumbuhan janin pun nanti nya berlangsung optimal. Mamil yang diliputi emosi negatif, seperti kesedihan, trauma, bahkan depresi akan menyalurkan energi negatif pula kepada janinnya. Jadi, Ma, jangan khawatir. Riwayat hamil anggur tidak meme ngaruhi atau mengurangi kesuburan Mama. Hanya saja, Mama yang pernah hamil anggur memiliki risiko sebesar 2% utuk mengalami kondisi serupa. Akan tetapi, risiko tersebut dapat dicegah dengan melakukan perencanaan kehamilan yang baik serta pemeriksaan kandungan yang teratur di awal kehamilan. Yang penting, Mama dan Papa sudah sama-sama siap untuk kembali ber usaha mendapatkan momongan.

Kenali Gejalanya

Mama yang mengalami hamil anggur akan merasakan gejalagejala kehamilan yang sama dengan yang dirasakan mamil di trimester pertama, seperti morning sickness. Tetapi, kondisi seperti ini biasanya akan menybabkan juga gejala lain yang lebih spesifik :

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

• Flek atau perdarahan dari vagina, dapat terjadi ketika kehamilan berusia 6 hingga 12 minggu. • Keluar jaringan atau cairan dengan bentuk gelembung mirip buah anggur atau mata ikan dari vagina. • Ukuran rahim tidak normal. Di saat usia kandungan mamil masih 1 bulan, namun perut sudah tampak membuncit selayaknya sedang hamil 3 bulan.

• Nyeri pada tulang panggul. • Kadar hCG (Human Chorionic Gonadotropin) mamil melebihi normal. Yang dimaksud hCG ialah hormon yang berfungsi untuk menjaga atau mempertahankan kesehatan kandungan pada trimester pertama. • Mual dan muntah hebat, karena disebabkan oleh tingginya kadar hCG. • Anemia, akibat mamil mengalami perdarahan cukup banyak.

• Tekanan darah tinggi (hipertensi). Jika mamil merasakan berbagai gejala di atas, patut mencurigai ada kondisi hamil anggur. Namun, satu-satunya cara untuk me mastikan adalah dengan memeriksakan diri ke dokter, lalu melakukan USG dan tes darah untuk mengukur kadar hCG di tubuh mamil. Dari pemeriksaan USG akan terlihat rahim kosong (tidak berisi janin) dan terdapat gambaran menyerupai sa rang tawon atau gelembung. Disamping itu, dokter juga tak bisa mendengar adanya denyut jantung dari janin. Hamil anggur pada umunya bisa terdeteksi melalui USG ketika kehamilan telah berusia 10-14 minggu.

Menghindari Komplikasi

Mama yang pernah mengalami hamil anggur mempunyai risiko sebesar 15-20% untuk menderita koriokarsinoma. Jangan khawatir, Ma. Jika terdeteksi sejak dini, penyakit ini bisa disembuhkan secara total. Pasca-kuretase, kondisi ke sehatan Mama akan terus dipantau oleh dokter, antara lain untuk mengamati kondisi sel-sel trofoblas agar tidak ber kembang menjadi tumor ganas. Caranya dengan melakukan tes darah untuk mengukur kadar hCG di tubuh Mama. Peme riksaan ini dilakukan secara berkala setiap beberapa ming gu sekali selama sekitar enam bulan ke depan. Jika pasca -kuretase, kadar hCG Mama masih tinggi, kemungkinan dokter akan mem berikan obat khusus untuk membantu menurunkannya.

Sumber : pascal-edu.com